Posts

Melankolis - tak karuan

Malam bukan sekedar gelap bagiku, melainkan ruang sunyi tempat segala  resah berkumpul dan menatap balik dari cermin itu. Ketika kududuk menatapnya, semakin ia menekan membuatku tak sudi lagi mengangkat wajah. Hatiku berusaha bicara, namun suara tercekik, tertahan di kerongkongan. Aku terjebak dalam labirin hatiku sendiri. Dihadapkan pada jalan bercabang yang tak terhitung jumlahnya, tak tahu mana yang harus kupilih. Terlalu banyak "ingin" - hadirnya, suaranya, bahkan sekedar bayangnya - hingga semuanya saling menuntut tempat di hati yang sempit ini. Aku bingung harus merasa yang mana lebih dulu. Kadang merasa seperti haus di tengah lautan meski air sebenarnya ada di sekeliling, tetapi tak satu pun benar-benar mampu menghilangkan dahaga. Kadang merasa perahu yang kutumpangi terombang-ambing di antara harapan dan kenyataan. Semakin menginginkan, semakin aku tak tahu ke mana harus melangkah. Semua yang kurasakan berdesakan, saling menyalip, saling menuntut untuk didengar, hingg...

Sang Ahli Bicara

Sang maestro kata tak lelah Pagi benar ia sudah bersenandung, tentang keran bocor dan sandal buntung. Ia tahu segalanya -- percaya saja, dari gosip tetangga sampai politik negara. Pakar rumah tangga, ahli segala rupa, kecuali ... diam. Itu bukan wilayahnya. Menggema terus walau tak ada yang butuh kabar. "Kenapa pintumu bunyinya berdecit?"  "Kenapa taplak mejanya miring? tak kau lurusin" Ah, ia abadi -- Tak akan lelah, tak akan mati. Jika nanti hening: Bukan karena damai meraja, tapi si cerewet demam bicara. 1 Mei 2025

Intuisi

Aku, selalu merajut senyum dan menyulam luka dengan tawa. Selalu kusembunyikan perihku agar dunia tak membaca air mataku. Malam tahu rahasiaku, angin mengerti isak yang kutahan. Namun, tak pernah kuduga, kini aku biarkan rasa itu timbul dan berakar. Aku biarkan hatiku menang dari pikiranku. Aku biarkan diri ini merasakan apa yang seharusnya ia rasakan. Aku lelah berpura-pura. Biar saja sedih ini timbul, biar ia bertunas, berakar, menjalar ke relung hati yang dulu kugenggam erat. Sebab mungkin, dalam kesedihan yang kubiarkan hidup, aku akhirnya menemukan bagian diriku yang hilang.

Nestapa

“Bersama dirimu terbebas dari nestapa”. Nestapa, aku suka kata 'nestapa', padahal artinya gak sebagus itu. Kali ini masih tanpa alasan. Banyak lirik yang gak sesuai sama beat musiknya. Mungkin itu cara orang-orang menutupi kesedihannya. Seringkali sedih dibaluri sukacita seakan bersedih itu dilarang. Alhasil, orang lain hanya menikmati balurannya, tapi gak merasakan rasa aslinya. Padahal sensasi membuat orang lain turut merasakan, itu lah yang menyenangkan. Gak apa-apa kok kalau di hatimu hujan deras, aku suka hujan. Kalau suatu hari nanti aku ada di sana, aku akan selalu ada di keluh kesahmu. Kamu boleh berbagi denganku. Aku pastikan airnya gak akan meluap membanjiri yang lain. Cukup aku yang nikmati saja, ya, nestapa.