Kenapa Ambon?
Sering kali orang berjumpa dengan saya bertanya, kenapa Ambon? Awalnya saya punya sejuta jawaban untuk itu, namun singkatnya karena saya tidak mau di Bali. Di mana saja, asal bukan di Bali. Tapi makin ke sini kok iya juga, kenapa Ambon?
Padahal, kalau saja saya tidak melangkah ke sini, mungkin hidup saya akan jauh lebih mudah. Saya tidak perlu memikirkan besok harus bagaimana. Tidak perlu merasa kehabisan arah, kehabisan ide, atau bahkan kehilangan diri sendiri. Tidak perlu merasakan galau yang dalam setelah kehilangan seseorang. Tidak perlu menangis sendirian di tempat yang bahkan belum sepenuhnya terasa seperti rumah. Mungkin saya akan hidup lebih tenang. Lebih nyaman. Lebih “aman”. Tapi ternyata, hidup tidak membawa saya ke sana.
Ambon… Kalau bukan karena Ambon, saya tidak akan jadi seperti sekarang. Saya tidak akan belajar menjadi dewasa dengan cara yang nyata, lewat jatuh dan bangkit sendirian. Saya tidak akan pernah tahu rasanya berani hidup tanpa orang tua, mengandalkan diri sendiri, tetapi tentu dengan pimpinan Tuhan. Dan mungkin… saya juga tidak akan pernah bertemu dia.
Di Ambon, saya merasa sangat kehilangan. Di Ambon, saya juga belajar melepaskan. Saat semuanya terasa berat, saya tidak punya banyak pilihan. Kalau takut, saya hanya bisa berdoa. Kalau lelah, saya hanya bisa sabar, walau si dia kadang jadi samsak. Tapi apalah daya, samsak kesukaan saya sudah tidak mau lagi. Kalau ingin menangis, ya… saya menangis sendirian. Dan dari semua itu, yang terpenting, saya mulai mengenal diri lebih dalam. Ternyata serapuh, sepapa, dan semenyedihkan itu kepribadian saya. Saya rasa sudah cukup. Ambon memang darah saya. Namun, Bali tetaplah rumah saya. Tempat di mana saya merasa utuh. Tempat di mana saya tidak perlu bertanya apakah saya cukup kuat. Tempat di mana saya tidak merasa sendirian, berani kabur walau cuman mutar-mutar daerah Badung. I don’t belong here, benar. Meski saya temukan banyak bagian dari diri saya yang belum pernah saya temui sebelumnya.
Jadi, kenapa Ambon? Mungkin bukan karena saya memilihnya. Tapi karena saya perlu melewati semua ini, untuk menyadari saya yang sekarang. Di saat semuanya sudah cukup, saya tahu… saya akan pulang.

Comments
Post a Comment