Beri Waktu
Hari ini, ketiga keponakan saya bertengkar cukup hebat di rumah. Sejak pagi, masalahnya bermula dari gadget. Dua keponakan laki-laki saya, Jun dan El memang paling sulit diatur jika sudah berurusan dengan gadget. Ketika bermain, mereka sering tidak merespons saat dipanggil, dan akan marah jika Wi-Fi dimatikan. Keponakan perempuan saya, Queen, yang paling tua di antara mereka, merasa kesal karena kedua adiknya tidak menyahut saat dipanggil oleh oma. Karena itu, ia mengganti kata sandi Wi-Fi agar mereka tidak bisa mengakses internet. Tindakan tersebut membuat mereka marah, hingga akhirnya mereka menendangnya dengan keras sampai ia sesak napas. Saat kejadian itu terjadi, saya sedang berada di sekolah. Keponakan perempuan saya kemudian melaporkan apa yang terjadi. Sepulang sekolah, saya langsung mengonfrontasi mereka. Saya menegaskan, “Hanya karena Wi-Fi, apakah kalian sampai tega menyakiti kakak sendiri?” Jun menangis, air matanya terus mengalir, namun ia tidak berbicara dan hanya diam.
Sore harinya, Jun dan El kembali bertengkar. Penyebab pastinya tidak jelas, tetapi kemungkinan besar masih berkaitan dengan gadget. Mereka saling menendang hingga tanpa sengaja menyenggol vas bunga milik oma sampai pecah. Oma marah dan menegur mereka, namun mereka masih membela diri, saling menuduh merasa tidak bersalah. Saat itu saya sedang di kamar. Ketika mendengar keributan, saya keluar dan berdiri di pintu penghubung ruang makan dan ruang tamu. Dengan emosi yang mulai memuncak, saya berkata tegas, “Diam kalian berdua! Oma sedang bicara, tidak ada yang boleh menyela. Kalian berdua salah.” Akhir-akhir ini, saya menyadari bahwa saya lebih mudah marah. Banyak hal kecil yang dengan cepat memicu emosi saya dan membuat saya mudah salah paham.
Setelah itu, mereka menangis. Untuk sementara, saya memisahkan mereka agar situasi lebih tenang. El pergi ke kamar oma di bawah, Jun duduk diam di ruang tamu, sementara Queen berada di dalam kamarnya. Saya memang tidak terlalu dekat dengan El, karena oma dan opa cenderung lebih membelanya. Dalam banyak situasi, El jarang dimarahi seperti Jun. Namun dalam kejadian ini, saya berusaha untuk bersikap adil. Saya merasa perlu menjadi sosok yang mendampingi Jun, terutama ketika ia tidak memiliki banyak pembela, meskipun Queen sebagai kakak kandungnya juga masih marah atas kejadian pagi tadi.
Saya membiarkan Jun duduk di ruang tamu selama kurang lebih 30 menit agar ia bisa merenungkan tindakannya. Setelah itu, ia ikut makan bersama saya di meja makan. El kemudian menyusul, meskipun wajahnya masih terlihat kesal. Saat makan, saya membuka percakapan dengan Jun yang duduk di sebelah kanan saya. Sambil mengelus tangannya, saya berkata dengan lebih tenang, “Setelah ini, belajar untuk mengendalikan diri. Jadilah baik dan jangan sampai menyakiti orang lain lagi. Bertindaklah selayaknya manusia, jangan seperti keledai liar.” Setelah selesai makan, saya dan Jun meninggalkan meja makan, sementara El masih berada di sana. Ia sempat memperhatikan percakapan saya dengan Jun. Saat melewatinya, saya menyentuh pundaknya dan berkata, “Lain kali, kendalikan emosimu juga. Setelah ini, langsung istirahat di kamar oma.”
Saya kemudian mengikuti Jun yang masuk ke kamar tempat kakaknya berada. Saya tahu ia belum meminta maaf, sehingga saya menyuruhnya untuk melakukannya. Ia menghampiri kakaknya dan meminta maaf, namun kakaknya menolak. Kemudian saya menyuruh Jun untuk memeluk kakaknya, tetapi kakaknya menepis. Saya pun berkata, “Tidak apa-apa kalau belum bisa memaafkan sekarang. Semua butuh waktu.” Lalu saya kembali menasihati Jun, “Jangan menyakiti kakakmu lagi. Ingat, dia saudaramu, begitu juga dengan El.” Saya juga menambahkan kepada Queen, “Kamu belum memaafkan sekarang, bukan berarti kamu tidak akan memaafkan nanti.”
Kembali ke kamar, saya mulai menuliskan kejadian hari ini. Setiap peristiwa selalu membawa pelajaran, termasuk bagi saya sendiri. Nasihat-nasihat yang saya ucapkan tadi justru menjadi boomerang yang kembali kepada diri saya. Cinta. Sayang. Amarah. Ternyata tidak mudah untuk dikendalikan, terlebih ketika kondisi hati sedang tidak baik-baik saja. Akan membabi buta jika tidak seimbang takarannya. Perkataan dan tindakanmu dapat menjadi tolak ukur seseorang bertindak kedepannya. Semua membutuhkan waktu. Menyadari kesalahan dan belajar memaafkan juga membutuhkan waktu. Tidak bisa dipaksakan, apalagi jika kita yang bersalah. 30 menit berpikir memang dapat menyadarkanmu bahwa kamu telah salah, tetapi bagi mereka bahkan waktu sehari pun belum tentu memberi kerelaan hati untuk memaafkan. Yang bisa dilakukan adalah memperbaiki diri dan memberi ruang bagi waktu untuk bekerja. Hingga pada akhirnya, mereka dapat menerimamu kembali, atau membuatmu tak mengulanginya di orang yang lain.

Comments
Post a Comment