Tentang 50 Alasan
50 Alasan yang saya tulis tahun lalu,
Surat itu tidak pernah benar-benar selesai ditulis dalam satu malam.
Ia dimulai dengan satu kalimat, “Bohong jika saya katakan bahwa saya mencintaimu tanpa alasan.”
Saya ingat malam itu, ketika pena pertama kali mulai menari di atas kertas. Hujan turun pelan di luar jendela, dan lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram. Alunan musik The Beatles mengalun lembut terbawa udara menyusuri gendang telinga. Saya dan pikiran saya.
Awalnya, saya hanya ingin menulis satu alasan.
Lalu dua.
Lalu tanpa sadar, saya menuliskan yang ketiga… keempat… sampai akhirnya saya berhenti di angka lima puluh. Sebenarnya bukan karena saya sudah kehabisan alasan, tapi karena saya takut kalau saya terus menulis, saya tidak akan pernah selesai.
Semua itu bermula dari hal-hal kecil.
Caramu berbicara.
Caramu mendengarkan.
Caramu diam.
Ada satu hari yang selalu teringat.
Kamu sedang bercerita. Entah tentang apa, mungkin hal sederhana, mungkin tidak begitu penting bagi orang lain. Tapi matamu berbinar, alismu sedikit terangkat ketika kamu menjelaskan sesuatu, kamu tersenyum di tengah cerita... saya dapati bahwa saya tidak hanya mendengar ceritamu. Saya memperhatikanmu.
Di dunia yang sering kali abu-abu, kamu memilih untuk jelas.
Dan itu langka.
Kamu tidak membuat saya ingin menjadi orang lain.
Kamu tidak memaksa saya untuk berubah agar layak berada di dekatmu.
Justru sebaliknya, di dekatmu, saya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri.
Dan lucunya, semakin saya mencoba menjelaskan alasannya, semakin saya sadar bahwa rasa ini tidak benar-benar butuh alasan.
Lima puluh itu hanya cara untuk membuatnya terdengar masuk akal.
Padahal sebenarnya, bahkan tanpa satu pun dari alasan itu, saya mungkin tetap akan jatuh.
Surat itu akhirnya saya tutup dengan satu kalimat,“Dan yang terpenting, saya mencintaimu karena kamu adalah dirimu.”
Saya membaca ulang semuanya. Lima puluh alasan. Lima puluh cara untuk berkata bahwa saya jatuh hati.
Saya tersenyum kecil, lalu melipat surat itu perlahan.
Kamu tidak pernah baca, mari biarkan seperti itu.

Comments
Post a Comment